Perbedaan menyebabkan ketidakcocokan bila menjalani
hubungan asmara. Namun, berbeda dengan kedua pasangan suami istri ini, Donny de
Keizer dan Lia.
“Mari kita menikah!” ucapan serius yang dilontarkan
Donny de Keizer kepada Lia. Tampak keyakinan mereka untuk menikah pada tahun
2009 tanpa meragukan perbedaan di antara mereka. Memiliki perbedaan dari latar
belakang agama dan budaya, bukan masalah bagi mereka. Hanya membutuhkan waktu
dan kesabaran bagi mereka untuk bisa menikah.
Dua tahun adalah waktu yang diperlukan mereka
menjalin asmara dan meyakinkan kedua pihak keluarga. Keseriusan mereka menjalin
hubungan, membuat kedua pihak keluarga menyetujui mereka untuk menikah. “Rasanya
seperti disiram air!” ujar Donny sambil tertawa bahagia. Beliau mengatakan
apabila ada niat dan kemauan pasti Tuhan membuka jalan. Hal ini terbukti dalam
kehidupan keluarga dan asmaranya.
Perbedaan di antara mereka banyak, namun
keharmonisan tetap terjalin. Sudah tiga tahun mereka menjalain pernikahan,
namun kehidupan tetap harmonis. Justru perbedaan di antara mereka menjadi hal
berkesan bagi Donny. “Hal yang berkesan saya dengan istri saya adalah ketika saya
tahu bahwa dia memiliki karakter yang berbeda seratsu delapan puluh derajat
dengan saya,” ia mengucapkan sambil tersenyum. Kebiasaan istrinya yang
berantakan, lamban, dan lembut, berbanding terbalik dengan kebiasan Donny. Bukan
hal yang baru bagi Donny mengalami perbedaan budaya dan agama seperti ini. Karena
latar belakang keluarganya yang berbeda, dia menjadi biasa akan hal itu. “Papa
saya orang Belanda Manado, mama saya orang Sunda,” ucap dia dalam wawancaranya
di tempat. Lia pun juga terbiasa dengan perbedaan tersebut. “Awalnya kikuk
banget, karena beda banget tap yaa belajar saja, lama-lama terbiasa,” ucap
istrinya sambil tersenyum malu. Menurut Donny, dengan perbedaan kita bisa
saling melengkapi.
Pekerjaan Donny sebagai broadcaster pernah menjadi
konflik di antara mereka. Mereka menjadi sulit bertemu, karena pekerjaan Donny
yang sangat menuntut waktu. Ketika istri masih tidur terlelap, beliau sudah
berangkat kerja. Bahkan mereka pernah tidak bertemu seharian. “Keadaan ini
menyadarkan, Donny tidak ada kebahagiaan yang didapat dari pekerjaan ini. Akhirnya
dia memutuskan untuk berhenti dan mebuka usaha rumah makan bersama istrinya. Bisnis
mereka mengalami kesuksesan. Namun mereka sempat mengalami kekurangan modal,
bahkan uangnya habis. Kondisi seperti itu, tidak mengurangi rasa cinta mereka. “Harta
paling berharga adalah istri saya,” tegas Donny. Sosok seseorang yang tidak
romantis ini menjadi kebanggaan bagi Lia. “Dia sosok yang sangat bertanggung
jawab, seorang kepala rumah tangga yang baik, dan seseorang yang tidak
romantis.”





