Journalistic , Faculty of Communication - Tarumanagara University

Selasa, 27 November 2012

Berbeda, Tetap Satu Juga




Perbedaan menyebabkan ketidakcocokan bila menjalani hubungan asmara. Namun, berbeda dengan kedua pasangan suami istri ini, Donny de Keizer dan Lia.

“Mari kita menikah!” ucapan serius yang dilontarkan Donny de Keizer kepada Lia. Tampak keyakinan mereka untuk menikah pada tahun 2009 tanpa meragukan perbedaan di antara mereka. Memiliki perbedaan dari latar belakang agama dan budaya, bukan masalah bagi mereka. Hanya membutuhkan waktu dan kesabaran bagi mereka untuk bisa menikah.

Dua tahun adalah waktu yang diperlukan mereka menjalin asmara dan meyakinkan kedua pihak keluarga. Keseriusan mereka menjalin hubungan, membuat kedua pihak keluarga menyetujui mereka untuk menikah. “Rasanya seperti disiram air!” ujar Donny sambil tertawa bahagia. Beliau mengatakan apabila ada niat dan kemauan pasti Tuhan membuka jalan. Hal ini terbukti dalam kehidupan keluarga dan asmaranya.

Perbedaan di antara mereka banyak, namun keharmonisan tetap terjalin. Sudah tiga tahun mereka menjalain pernikahan, namun kehidupan tetap harmonis. Justru perbedaan di antara mereka menjadi hal berkesan bagi Donny. “Hal yang berkesan saya dengan istri saya adalah ketika saya tahu bahwa dia memiliki karakter yang berbeda seratsu delapan puluh derajat dengan saya,” ia mengucapkan sambil tersenyum. Kebiasaan istrinya yang berantakan, lamban, dan lembut, berbanding terbalik dengan kebiasan Donny. Bukan hal yang baru bagi Donny mengalami perbedaan budaya dan agama seperti ini. Karena latar belakang keluarganya yang berbeda, dia menjadi biasa akan hal itu. “Papa saya orang Belanda Manado, mama saya orang Sunda,” ucap dia dalam wawancaranya di tempat. Lia pun juga terbiasa dengan perbedaan tersebut. “Awalnya kikuk banget, karena beda banget tap yaa belajar saja, lama-lama terbiasa,” ucap istrinya sambil tersenyum malu. Menurut Donny, dengan perbedaan kita bisa saling melengkapi.

Pekerjaan Donny sebagai broadcaster pernah menjadi konflik di antara mereka. Mereka menjadi sulit bertemu, karena pekerjaan Donny yang sangat menuntut waktu. Ketika istri masih tidur terlelap, beliau sudah berangkat kerja. Bahkan mereka pernah tidak bertemu seharian. “Keadaan ini menyadarkan, Donny tidak ada kebahagiaan yang didapat dari pekerjaan ini. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mebuka usaha rumah makan bersama istrinya. Bisnis mereka mengalami kesuksesan. Namun mereka sempat mengalami kekurangan modal, bahkan uangnya habis. Kondisi seperti itu, tidak mengurangi rasa cinta mereka. “Harta paling berharga adalah istri saya,” tegas Donny. Sosok seseorang yang tidak romantis ini menjadi kebanggaan bagi Lia. “Dia sosok yang sangat bertanggung jawab, seorang kepala rumah tangga yang baik, dan seseorang yang tidak romantis.”

Ketika Kegiatan Rohani Terlupakan




Keagamaan tak lagi menjadi pilihan utama mahasiswa untuk berkegiatan. Di tengah kesibukan mahasiswa, kegiatan mahasiswa, menjadi tempat mahasiswa lain menjadi pilihan utama bagi mahasiswa. UKM, dikenal dengan kegiatan mahasiswa, menjadi tempat mahasiswa untuk mencari kesenangan serta melepas stres. Mengikuti UKM, mahasiswa dapat belajar berorganisasi, mengembangkan bakat, dan bersosialisasi. Namun lain dengan UKM agama. Mungkin agama hanya berbicara Tuhan. Itulah menjadi pandangan umum orang-orang tentang agama, seringkali membuat orang malas melibatkan diri dalam kegiatan agama.

Keagamaan bukan berbicara soal Tuhan saja. Banyak hal yang bisa didapat dalam agama. Karena di zaman yang modern ini, orang menjadi fokus memperhatikan kebutuhan jasmaninya. Terutama pada mahasiswa. Mereka hanya fokus pada belajar di kampus. Selain belajar, mereka perlu memperhatikan kebutuhan rohaninya. “Mahasiswa tidak hanya belajar, tapi perlu membangun spiritual. Dengan memiliki spiritual yang baik, kita menjadi semangat belajar,” ujar Enos (21), mahasiswa yang mengikuti UKM pencinta alam. Ia mengatakan bahwa keterlibatan kita mengikuti kegiatan agama, sangat menarik. Kita mendapat ajaran-ajaran dalam kitab suci. Melalui ajaran tersebut, kita memiliki prinsip hidup yang jelas.

Sama dengan pendapat Enos, yang mengatakan UKM agama perlu dan menarik, Andrew (20), dengan tegas menjelaskan, “Mahasiswa harus hidup seimbang antara rohani dan jasmani!” Dia mengatakan bahwa kecenderungan orang melakuka penyimpangan lebih besar ketika tidak mengenal agama. “Seimbangkanlah kehidupan kita dengan agama.” Andrew adalah salah satu anggota dari UKM agama Katolik.

Berbeda pendapat dengan Enos dan Andrew, mereka mengikuti UKM agama untuk memenuhi kebutuhan rohani, Shelvia (20), anggota UKM Budha, berpendapat mengikuti UKM agama dapat memperjelas status agama kita, terutama orang yang belum memiliki agama yang jelas.

Mengikuti UKM agama tidak hanya berbicara Tuhan, namun kita dapat melakukan kegiatan yang lain. Berkumpul bersama, berbagi pengalaman, pengajaran, dan bermain. Hampir sama dengan UKM lainnya. Kita belajar banyak hal, membangun kebersamaan dan kekeluargaan dalam organisasi. “Dalam Adhiyatmaka kita diajarkan hal kekeluargaan,” ujar Andrew. Bersikap terbuka buat pendatang baru. Bila ada konflik, mereka akan menyelesaikan secara kekeluargaan. Sependapat dengan Andrew, Shelvia mengatakan “Asiknya di UKM agama tuh, orang-orangnya terbuka, sudah seperti keluarga.”

UKM agama bukan kegiatan yang mengembangkan bakat tapi kegiatan yang mengisi kebutuhan spiritual manusia. Mahasiswa perlu memenuhi kebutuhan spiritual agar menjadi penyegaran jiwa bagi kehidupan mereka. Namun kembali pada pilihan mereka.

Senin, 26 November 2012

Terbaik Bagiku



Dalam hidup tak segalanya bersukaria
Ada saat ku bersedih, ada kalanya ku tertawa bahagia
Bahkan tak jarang batinku merintih
Hidupku terus ku jalani walau terkadang aku letih

Andai liku hidup ini dapat ku hentikan
Semudah ku membalikkan telapak tangan
Namun itu hanyalah mimpi
Pada akhirnya kembali pada kenyataan

Banyak hal dalam hidup yang tak dapat kumengerti
Bahagia dan duka datang silih berganti
Ku hanya berserah penuh pada Tuhan
Berdoa tanpa lelah kupanjatkan pada sang pemberi kehidupan

Tertatih kehidupan semua ini
Bukan kuasaku tuk berkehendak sesuka hati
Namun Tuhanlah yang menentukan apa yang akan terjadi
Karena itu kuserahkan perkaraku hanya pada Tuhan

Kepasrahan hidup membuatku lebih berlapang dada
Keyakinan akan kasih Tuhan telah menguatkan jiwa
Penghiburan-Nya legakan hati, lepaskan beban hidupku
Hanya satu hal yang ku mengerti, segala yang terjadi adalah yang terbaik bagiku

Aku yang Tak Diharapkan


Ibu..
Mengapa kau membunuhku?
Mengapa kau tiadakan aku?
Kau tlah binasakan jiwa juga harapanku

Dalam kandungmu aku menanti sebuah cinta
Dalam kandungmu aku menanti pelukan sayang
Namun tiba rasanya harapan itu pupus dan melayang
Karena dirimu sendirilah yang meniadakan aku dari dunia

Aku hanya manusia lemah yang kau lenyapkan
Aku hanyalah raga yang belum sempurna
Aku masih manusia yang tak berdaya melawan
Bukan sbuah kasih yang kudapat, namun penolakan yang kau wujudkan

Dalam pangkuan Tuhan kini ku berada
Menatap bundaku sayang
Walau kau tak mengharapkanku, inilah darah dagingmu
Walau ku tak dapat menyentuhmu, tapi aku tetap mengasihimu

Ibu..
Jika suatu hari nanti adik hadir
Jangan kau pupuskan asanya
Cukup aku yang merasakan
Sadarilah dan bertobatlah, Tuhan kan.mengampunimu

Aku Sayang Padamu

Semilir angin berputar di dekatku
Malam penuh bulan
Bertabur bintang
Indah tak terkata

Dinginnya malam, merengkuh jiwa ini
Menyejukkan hatiku
Namun tak mampu menghalang rinduku
Rindu akan hadirmu saat ini dan selamanya

Memandang langit indah saat gelap
Hanya semburat sinar bulan tersenyum, inginku terlelap
Dan berjuta bintang bertabur menambah indahnya malam
Dan saat itu jugalah aku.memikirkanmu

Sejuknya malam membawa anganku akanmu
Saat pejamkan mata, bayang rupamu terlintas
Suara gemericik air terdengar, rinduku mengalir dalam hati
Menikmati keindahan ini, membuatku terus memikirkanmu
Menambah hasrat ku tuk.katakan aku sayang padamu

Menjual Martabak Menjadi Jalan Cita-Cita



Serius dan tanpa senyuman, ekspresi dari seorang penjual martabak, Wahyu (17), Selama 2 tahun telah menjalani profesinya. Tak bisa meneruskan pendidikan SMP, SMA tekadnya untuk mengejar cita-citanya tak pernah pudar. Wahyu yakin menjadi seorang penjual martabak adalah jalannya untuk mencapai cita-cita. Ia menggerti bahwa sulitnya menjadi penjual martabak pinggir jalan Jakarta. Namun Wahyu yakin dengan kemampuannya untuk bersaing di Jakarta.

Tidak pernah malu dengan kehidupannya, Wahyu selalu membawa gerobak dagangannya setiap pukul 17.00. menyiapkan peralatan dan perlengkapan, sambil menunggu pelangan. Bahkan membuatnya semangat menjalankan perkerjaannya.”Saya mah. Lebih semangat kalau pergi belanja sama dagang. Dari pada saya jalan-jalan tidak jelas”. Kata Wahyu sambil tersenyum. Dia bangga dengan dirinya yang masih muda sudah bisa menghasilkan uang.
Sadar dengan kondisi keuangan orang tuanya, Wahyu memutuskan pergi dari kampungnya, tegal. Disamping mengejar cita-citanya ingin mencari uang untuk orang tua dan adiknya di kampong. Wahyu mengatakan ingin membahagiakan Keluarganya.”Saya merantau ke Jakarta, berdagang, buat bantu orang tua dan adik saya, kasih modal …”.
Cita-citanya menjadi pembalap membuat Wahyu termotivasi untuk membuat martabak. Selama 2 tahun, wahyu sudah berkerja di 20 toko martabak. Wahyu belajar di berbagai tempat karena ingin membuat martabak yang enak. Bahkan ia ingin membuat toko martabak yang paling terkenal di Jakarta.”Saya kepengen membuat toko martabak sendiri, terus bisa masuk TV”.
Dengan menjadi penjual martabak yang terkenal, Wahyu sangat yakin dapat mencapai cita-citanya, untuk menjadi seorang pembalap, kemudian membuka bengkel.”Saya sih berharap supaya bisa menjadi pembalap dan buka bengkel, kalau saya bisa menjadi penjual martabak terkenal.
Hi ! I am Patrick Yosua Pinaria :) 
Welcome to my Blog ..
God bless you !!