Journalistic , Faculty of Communication - Tarumanagara University

Senin, 26 November 2012

Menjual Martabak Menjadi Jalan Cita-Cita



Serius dan tanpa senyuman, ekspresi dari seorang penjual martabak, Wahyu (17), Selama 2 tahun telah menjalani profesinya. Tak bisa meneruskan pendidikan SMP, SMA tekadnya untuk mengejar cita-citanya tak pernah pudar. Wahyu yakin menjadi seorang penjual martabak adalah jalannya untuk mencapai cita-cita. Ia menggerti bahwa sulitnya menjadi penjual martabak pinggir jalan Jakarta. Namun Wahyu yakin dengan kemampuannya untuk bersaing di Jakarta.

Tidak pernah malu dengan kehidupannya, Wahyu selalu membawa gerobak dagangannya setiap pukul 17.00. menyiapkan peralatan dan perlengkapan, sambil menunggu pelangan. Bahkan membuatnya semangat menjalankan perkerjaannya.”Saya mah. Lebih semangat kalau pergi belanja sama dagang. Dari pada saya jalan-jalan tidak jelas”. Kata Wahyu sambil tersenyum. Dia bangga dengan dirinya yang masih muda sudah bisa menghasilkan uang.
Sadar dengan kondisi keuangan orang tuanya, Wahyu memutuskan pergi dari kampungnya, tegal. Disamping mengejar cita-citanya ingin mencari uang untuk orang tua dan adiknya di kampong. Wahyu mengatakan ingin membahagiakan Keluarganya.”Saya merantau ke Jakarta, berdagang, buat bantu orang tua dan adik saya, kasih modal …”.
Cita-citanya menjadi pembalap membuat Wahyu termotivasi untuk membuat martabak. Selama 2 tahun, wahyu sudah berkerja di 20 toko martabak. Wahyu belajar di berbagai tempat karena ingin membuat martabak yang enak. Bahkan ia ingin membuat toko martabak yang paling terkenal di Jakarta.”Saya kepengen membuat toko martabak sendiri, terus bisa masuk TV”.
Dengan menjadi penjual martabak yang terkenal, Wahyu sangat yakin dapat mencapai cita-citanya, untuk menjadi seorang pembalap, kemudian membuka bengkel.”Saya sih berharap supaya bisa menjadi pembalap dan buka bengkel, kalau saya bisa menjadi penjual martabak terkenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar