
Serius dan tanpa
senyuman, ekspresi dari seorang penjual martabak, Wahyu (17), Selama 2 tahun
telah menjalani profesinya. Tak bisa meneruskan pendidikan SMP, SMA tekadnya
untuk mengejar cita-citanya tak pernah pudar. Wahyu yakin menjadi seorang
penjual martabak adalah jalannya untuk mencapai cita-cita. Ia menggerti bahwa
sulitnya menjadi penjual martabak pinggir jalan Jakarta. Namun Wahyu yakin
dengan kemampuannya untuk bersaing di Jakarta.
Tidak pernah malu dengan kehidupannya, Wahyu selalu membawa
gerobak dagangannya setiap pukul 17.00. menyiapkan peralatan dan perlengkapan,
sambil menunggu pelangan. Bahkan membuatnya semangat menjalankan
perkerjaannya.”Saya mah. Lebih semangat kalau pergi belanja sama dagang. Dari
pada saya jalan-jalan tidak jelas”. Kata Wahyu sambil tersenyum. Dia bangga
dengan dirinya yang masih muda sudah bisa menghasilkan uang.
Sadar dengan kondisi keuangan orang tuanya, Wahyu memutuskan
pergi dari kampungnya, tegal. Disamping mengejar cita-citanya ingin mencari
uang untuk orang tua dan adiknya di kampong. Wahyu mengatakan ingin
membahagiakan Keluarganya.”Saya merantau ke Jakarta, berdagang, buat bantu
orang tua dan adik saya, kasih modal …”.
Cita-citanya menjadi pembalap membuat Wahyu termotivasi
untuk membuat martabak. Selama 2 tahun, wahyu sudah berkerja di 20 toko
martabak. Wahyu belajar di berbagai tempat karena ingin membuat martabak yang
enak. Bahkan ia ingin membuat toko martabak yang paling terkenal di
Jakarta.”Saya kepengen membuat toko martabak sendiri, terus bisa masuk TV”.
Dengan menjadi penjual martabak yang terkenal, Wahyu sangat
yakin dapat mencapai cita-citanya, untuk menjadi seorang pembalap, kemudian
membuka bengkel.”Saya sih berharap supaya bisa menjadi pembalap dan buka
bengkel, kalau saya bisa menjadi penjual martabak terkenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar