Ryo
S adalah seorang filmmaker Indonesia yang masih muda.
Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1987. Dia adalah anak bungsu dari
tiga bersaudara.
Latar
Belakang
Sebelum menjadi seorang filmmaker, dia adalah mahasiswa
alumni di Monash University, Digital Arts and Multimedia Design di Monash
University bagian animasi, Melbourne. Di tahun kedua kuliahnya, dia diajarkan
tentang film making, dengan pembuatan film misteri. Dari situlah merupakan awal
ketertarikan dari seorang filmmaker ini pada dunia perfilman.
Kesukaannya pada dunia film, membuat dirinya
termotivasi untuk menjadi seorang filmmaker yang hebat. Kemudian dia membuat
suatu perkumpulan bernama “Anak-Anak
Film” yang berasal dari perkumpulan pelajar Indonesia-Austaralia. Dengan
memiliki ambisi yang sama akhirnya mereka membuat film perdananya yaitu “Bikin Film”. Film ini kemudian cukup
banyak disukai oleh banyak orang. Kesuksesan dalam pembuatan film tersebut
hingga disukai banyak orang, tidak lepas dari peran seseorang yang kreatif Ryo
Siauw yang berperan sebagai produser pada pembuatan film tersebut. Ryo mampu
membentuk kerja sama antara anggota-anggota timnya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di Melbourne, dia
memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari kerja. Di Amerika dia bekerja membuat
film-film pendek. Dan di sana dia mendapatkan profesi menjadi sutradara.
Bersama-sama dengan perkumpulan orang gereja, dia membentuk tim. Selama 2 tahun
dia bekerja di Amerika.
Banyaknya pengalaman dalam membuat film, Ryo semakin
tertarik utnuk menjadi pembuat film. Dia semakin “jatuh cinta” pada dunia
perfilman. Selain menjadi produser dan sutradara, dia pernah berperan menjadi
cameraman, editor, dan bagian dari tim kreatifnya. Bahkan dia pernah memegang
semua peran dalam pembuatan film. Dia membuat suatu karya filmnya berjudul “Topeng”. Film ini merupakan film yang
berjenis pembunuhan dan horor. Karya film ini dimasukkan dalam perlombaan
“Hello Festival” kemudian berhasil menang.
Pada tahun 2008, Ryo kembali ke Indonesia untuk
memulai karirnya di Jakarta. Dia mengawali karirnya di Indonesia menjadi
sebagai tim kreatif dan assistant director dalam music video. Dia pernah
menjadi assitant director dalam pembuatan music video “Tak Lekang Oleh Waktu” Kerispatih,
“Malu-Malu Dong” T2. Selain itu, dia membuat film pendek
dan menjadi penulis naskah film.

Saat pembuatan music video Kerispatih-Tak Lekang
Oleh Waktu
Hambatan
dan Cara Mengatasi
Di balik kesuksesannya dalam membuat film ada
hambatan dan kegagalan yang terjadi. Hal itu dialami oleh Ryo. “Hambatan itu
ada dan pasti sering terjadi,” katanya. Menurut dia, hambatan dan kegagalan
sudah menjadi hal yang biasa terjadi dalam proses pembuatan film. hal-hal yang
tidak terduga akan sering terjadi. Contoh: konflik antara sutradara dengan
produser, konflik antara artis dan sutradara. Semua bisa terjadi karena adanya
perbedaan pendapat. Selain itu, dana juga bisa menjadi hambatan. Akan tetapi, disitutlah
kreatifitas sangat berperan penting. Bagaimana kita bisa menemukan jalan keluar
untuk menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut. Itu diperlukan kerja sama yang
baik pada setiap kru nya. Rapat adalah cara yang baik untuk menyelesaikan
masalah. Perlunya peran director/produser dalam hal ini. Biasanya mereka dapat
melihat permasalahan timnya, kemudian memberi solusi yang tepat. Jika masih ada
anggota yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya, dia akan keluar.
Dalam pekerjaan di dunia perfilman sangatlah unik.
Mereka memegang prinsip pikiran harus satu jalan antara anggota dengan anggota
yang lainnya. Secara tidak langsung mereka dituntut untuk open minded.
Sebagaimana dituntut sebagai orang yang kreatif.
“Orang kreatif sangat sulit ditebak pikirannya,” menurut Filmmaker ini. Oleh karena itu, kreatifitas sangatlah penting dalam pekerjaan ini untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Contoh: membuat cerita baru dalam film. Hal ini akan terlihat rumit bagi orang yang tidak kreatif. Tetapi, hal-hal seperti ini yang menyebabkan Ryo tertarik dengan bidang perfilman.
Lain halnya dengan hambatan di atas. Terkadang
hambatan juga terjadi, ketika mengalami kebuntuan dalam mengeluarkan ide.
Apalagi ketika dikejar deadline. Untuk mengatasi hal itu, Ryo melakukan refreshing
seperti bermain game, jalan-jalan, nongkrong di kafe, membaca buku, atau
nonton.
Proses
Pembuatan Film
Dari sekian banyak karya film yang dibuat, Film
“Topeng” adalah film yang paling berkesan dan membanggakan bagi Ryo. Film yang
berjenis horor dan pembunuhan ini berhasil memenangkan lomba di salah satu
perlombaan yaitu, “Hello Festival”. Cerita yang sedikit abstrak dan
experimental ini dibuat, karena terinspirasi dengan film-film horor seperti
Paranormal Activity. Paranormal Activity yang kita ketahui merupakan film yang
sangat disukai banyak orang. Penjualan filmnya sangat laku, hingga mendapatkan
keuntungan yang besar. Steven Spielberg mengagumi karya tersebut. Padahal film
tersebut tidak membutuhkan biaya yang sangat banyak. Film ini termasuk kategori
film yang memiliki budget rendah berkisar 10 juta rupiah, hanya membutuhkan 2
artis dan berlokasi di rumah sutradaranya.
Inilah yang menjadi inspirasi bagi Ryo dalam
pembuatan film “Topeng”. Dia berupaya untuk mengeluarkan budget yang rendah
tapi bisa menarik banyak penonton. Ryo berperan sebagai produser, sutradara,
cameraman, penulis naskah, sekaligus tim kreatifnya. Film ini sangat berkesan
baginya karena banyak penonton yang sangat menghargainya. Menurut Ryo, dalam
pembuatan film horor tidak perlu menggunakan teknologi yang canggih. Dengan
peralatan yang cukup sederhana dapat menghasilkan film yang bagus. Film horor
adalah salah satu film kesukaannya. Karena dalam pembuatan film nya dibutuhkan
kreatifitas tinggi.
Kesimpulan
Sebagai filmmaker, dia berpendapat bahwa orang
kreatif selain imagine, harus realistis juga. Mimpi memang tidak dibatasi, tapi
harus disesuaikan dengan fakta kehidupan yang dialami saat ini. Kita bukan
Steven Spielberg ataupun Joko Anwar. Artinya, membuat film yang hebat boleh
saja, tapi harus melihat kemampuan kita saat ini untuk membuat film, baik dari
dana sampai perlengkapannya. Di situlah kreatifitas sangat berperan.
Selain itu, tidak boleh takut gagal dalam
mengeluarkan ide dalam pembuatan suatu film. terus berusaha dan menghasilkan
karya yang baik dari kreatifitas yang kita miliki. Karena kita tidak tahu
sampai mana tingkat kreatifitas kita. Dan kita tidak bisa belajar banyak hal
pada kemampuan kreatifitas kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar