Journalistic , Faculty of Communication - Tarumanagara University

Minggu, 02 Desember 2012

Keterbatasan Menembus Keterbatasan

Ryo S











Ryo S adalah seorang filmmaker Indonesia yang masih muda. Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1987. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Latar Belakang
Sebelum menjadi seorang filmmaker, dia adalah mahasiswa alumni di Monash University, Digital Arts and Multimedia Design di Monash University bagian animasi, Melbourne. Di tahun kedua kuliahnya, dia diajarkan tentang film making, dengan pembuatan film misteri. Dari situlah merupakan awal ketertarikan dari seorang filmmaker ini pada dunia perfilman.

Kesukaannya pada dunia film, membuat dirinya termotivasi untuk menjadi seorang filmmaker yang hebat. Kemudian dia membuat suatu perkumpulan bernama “Anak-Anak Film” yang berasal dari perkumpulan pelajar Indonesia-Austaralia. Dengan memiliki ambisi yang sama akhirnya mereka membuat film perdananya yaitu “Bikin Film”. Film ini kemudian cukup banyak disukai oleh banyak orang. Kesuksesan dalam pembuatan film tersebut hingga disukai banyak orang, tidak lepas dari peran seseorang yang kreatif Ryo Siauw yang berperan sebagai produser pada pembuatan film tersebut. Ryo mampu membentuk kerja sama antara anggota-anggota timnya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Melbourne, dia memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari kerja. Di Amerika dia bekerja membuat film-film pendek. Dan di sana dia mendapatkan profesi menjadi sutradara. Bersama-sama dengan perkumpulan orang gereja, dia membentuk tim. Selama 2 tahun dia bekerja di Amerika.

Banyaknya pengalaman dalam membuat film, Ryo semakin tertarik utnuk menjadi pembuat film. Dia semakin “jatuh cinta” pada dunia perfilman. Selain menjadi produser dan sutradara, dia pernah berperan menjadi cameraman, editor, dan bagian dari tim kreatifnya. Bahkan dia pernah memegang semua peran dalam pembuatan film. Dia membuat suatu karya filmnya berjudul “Topeng”. Film ini merupakan film yang berjenis pembunuhan dan horor. Karya film ini dimasukkan dalam perlombaan “Hello Festival” kemudian berhasil menang.

Pada tahun 2008, Ryo kembali ke Indonesia untuk memulai karirnya di Jakarta. Dia mengawali karirnya di Indonesia menjadi sebagai tim kreatif dan assistant director dalam music video. Dia pernah menjadi assitant director dalam pembuatan music video “Tak Lekang Oleh WaktuKerispatih, Malu-Malu DongT2. Selain itu, dia membuat film pendek dan menjadi penulis naskah film.

 


Saat pembuatan music video Kerispatih-Tak Lekang Oleh Waktu

Hambatan dan Cara Mengatasi
Di balik kesuksesannya dalam membuat film ada hambatan dan kegagalan yang terjadi. Hal itu dialami oleh Ryo. “Hambatan itu ada dan pasti sering terjadi,” katanya. Menurut dia, hambatan dan kegagalan sudah menjadi hal yang biasa terjadi dalam proses pembuatan film. hal-hal yang tidak terduga akan sering terjadi. Contoh: konflik antara sutradara dengan produser, konflik antara artis dan sutradara. Semua bisa terjadi karena adanya perbedaan pendapat. Selain itu, dana juga bisa menjadi hambatan. Akan tetapi, disitutlah kreatifitas sangat berperan penting. Bagaimana kita bisa menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut. Itu diperlukan kerja sama yang baik pada setiap kru nya. Rapat adalah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Perlunya peran director/produser dalam hal ini. Biasanya mereka dapat melihat permasalahan timnya, kemudian memberi solusi yang tepat. Jika masih ada anggota yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya, dia akan keluar.

Dalam pekerjaan di dunia perfilman sangatlah unik. Mereka memegang prinsip pikiran harus satu jalan antara anggota dengan anggota yang lainnya. Secara tidak langsung mereka dituntut untuk open minded. Sebagaimana dituntut sebagai orang yang kreatif. 

“Orang kreatif sangat sulit ditebak pikirannya,” menurut Filmmaker ini. Oleh karena itu, kreatifitas sangatlah penting dalam pekerjaan ini untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Contoh: membuat cerita baru dalam film. Hal ini akan terlihat rumit bagi orang yang tidak kreatif. Tetapi, hal-hal seperti ini yang menyebabkan Ryo tertarik dengan bidang perfilman.

Lain halnya dengan hambatan di atas. Terkadang hambatan juga terjadi, ketika mengalami kebuntuan dalam mengeluarkan ide. Apalagi ketika dikejar deadline. Untuk mengatasi hal itu, Ryo melakukan refreshing seperti bermain game, jalan-jalan, nongkrong di kafe, membaca buku, atau nonton.

Proses Pembuatan Film

Dari sekian banyak karya film yang dibuat, Film “Topeng” adalah film yang paling berkesan dan membanggakan bagi Ryo. Film yang berjenis horor dan pembunuhan ini berhasil memenangkan lomba di salah satu perlombaan yaitu, “Hello Festival”. Cerita yang sedikit abstrak dan experimental ini dibuat, karena terinspirasi dengan film-film horor seperti Paranormal Activity. Paranormal Activity yang kita ketahui merupakan film yang sangat disukai banyak orang. Penjualan filmnya sangat laku, hingga mendapatkan keuntungan yang besar. Steven Spielberg mengagumi karya tersebut. Padahal film tersebut tidak membutuhkan biaya yang sangat banyak. Film ini termasuk kategori film yang memiliki budget rendah berkisar 10 juta rupiah, hanya membutuhkan 2 artis dan berlokasi di rumah sutradaranya.

Inilah yang menjadi inspirasi bagi Ryo dalam pembuatan film “Topeng”. Dia berupaya untuk mengeluarkan budget yang rendah tapi bisa menarik banyak penonton. Ryo berperan sebagai produser, sutradara, cameraman, penulis naskah, sekaligus tim kreatifnya. Film ini sangat berkesan baginya karena banyak penonton yang sangat menghargainya. Menurut Ryo, dalam pembuatan film horor tidak perlu menggunakan teknologi yang canggih. Dengan peralatan yang cukup sederhana dapat menghasilkan film yang bagus. Film horor adalah salah satu film kesukaannya. Karena dalam pembuatan film nya dibutuhkan kreatifitas tinggi.

Kesimpulan

Sebagai filmmaker, dia berpendapat bahwa orang kreatif selain imagine, harus realistis juga. Mimpi memang tidak dibatasi, tapi harus disesuaikan dengan fakta kehidupan yang dialami saat ini. Kita bukan Steven Spielberg ataupun Joko Anwar. Artinya, membuat film yang hebat boleh saja, tapi harus melihat kemampuan kita saat ini untuk membuat film, baik dari dana sampai perlengkapannya. Di situlah kreatifitas sangat berperan.

Selain itu, tidak boleh takut gagal dalam mengeluarkan ide dalam pembuatan suatu film. terus berusaha dan menghasilkan karya yang baik dari kreatifitas yang kita miliki. Karena kita tidak tahu sampai mana tingkat kreatifitas kita. Dan kita tidak bisa belajar banyak hal pada kemampuan kreatifitas kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar