Tugas Metode Penelitian Komunikasi
(Variabel Independent, Dependent, Kerangka Pikir, Skala)
Variable independent adalah variabel yang merupakan
penyebab atau yang mempengaruhi variabel dependent (DV) atau yang menyebabkan
terjadinya variasi bagi variabel dependent (DV). Apabila variabel IV berubah,
maka variabel DV juga akan berubah. Variable independent merupakan variable
yang faktornya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk
menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi. Jika diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia, variabel independent disebut juga sebagai peubah bebas
dan sering juga disebut dengan variable bebas, stimulus, faktor, treatment,
predictor, input, atau antecedent. Contoh: pengaruh metode mengajar terhadap
prestasi siswa. =>Variabel independent adalah Metode Mengajar
Variable dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari
variabel independent. Variabel dependent, dalam bahasa Indonesia sering disebut
sebagai perubah tak bebas, variabel terikat, tergantung, respons, variabel
output, criteria, atau konsekuen. Variabel ini merupakan fokus utama dari penelitian.
Variabel inilah yang nilainya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh dari
variabel independent. Nilainya bisa beragam dan tergantung pada besarnya perubahan
variabel independent., artinya, setiap terjadi perubahan
(penambahan/pengurangan) sekian kali satuan variabel independen, diharapkan
akan menyebakan variabel dependen berubah (naik/turun) sekian satuan juga. Secara
matematis, hubungan tersebut mungkin bisa digambarkan dalam bentuk persamaan Y
= a + bX. Misalnya, Y = Hasil (ton) dan X = pupuk Urea (kg), maka setiap pupuk
urea dinaikkan/atau diturunkan sebesar b (kg), maka hasil naik/turun sebesar b
(ton) dan apabila tidak di berikan pupuk (b=0), maka hasilnya adalah sebesar a
(ton). Pola hubungan antara kedua variabel tersebut bisanya di kaji dalam
penelitian asosiasi atau prediksi, biasanya diuji dengan menggunakan Analisis
Regresi. Skala pengukuran variabel independentnya bukan
merupakan variabel interval atau rasio, sehingga untuk melihat pengaruh dari
variabel independet terhadap variabel dependent lebih tepat dengan menggunakan Analisis
Varians (ANOVA). Dengan Anova tersebut kita bisa menentukan ada
tidaknya perbedaan diantara metode mengajar, dan apabila ada, kita bisa
menentukan metode mengajar yang lebih baik atau terbaik.
Kerangka pikir merupakan inti sari dari teori yang telah dikembangkan yang dapat
mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka
memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan
antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis.
Perlu dijelaskan bahwa tidak semua penelitian memiliki kerangka pikir.
Kerangka pikir pada umumnya hanya dipruntukkan pada jenis penelitian kuantatif.
Untuk penelitian kualitatif, kerangka berpikirnya terletak pada kasus yang
selama ini dilihat atau diamati secara langsung oleh penulis. Sedangkan untuk
penelitian tindakan kerangka berpikirnya terletak pada refleksi, baik pada
peneliti maupun pada partisipan. Hanya dengan kerangka berpikir yang tajam yang
dapat digunakan untuk menurunkan hipotesis. Suriasumantri,
1986 dalam (Sugiyono, 2009:92) mengemukakan bahwa seorang peneliti harus
menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar menyusun kerangka pemikiran yang
membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran merupakan penjelasan sementara
terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan. Kriteria utama agar suatu
kerangka pemikiran bisa meyakinkan ilmuwan, adalah alur-alur pemikiran yang
logis dalam membangun suatu berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa
hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antara
variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.
Selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan
sintesa tentang hubungan antara variabel penelitian. Sintesa tentang hubungan
variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
1.
Penyusunan Kerangka Konseptual
a.
Bedakan antara kerangka konsep
dengan kerangka operasional.
b.
Kerangka konsep dipakai sebagai
landasan berfikir sedangkan kerangka operasional merupakan kerangka kerja
(pentahapan langkah metoda ilmiah).
c.
Kumpulkan semua sumber pustaka dan
konsep atau teori lalu seleksi teori mana yang dianggap sesuai dengan tema
penelitian.
d.
Identifikasi dan definisikan semua
variable penelitian, dan kategorikan sesuai dengan kelompoknya (independent,
dependent, counfonding, control).
2.
Langkah-Langkah Penyusunan
a.
Seleksi dan definisikan konsep
dalam penelitian – Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau
yang lebih dikenal dengan variable. Contoh : jika seorang peneliti akan tentang
sikap manusia. Sikap adalah konsep, yang menggambarkan reaksi atau respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap stimulus atau obyek maka
pengukurannya harus berdasarkan pada konstruk atau variable yang menyusun sikap
manusia, yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Komponen kognisi merupakan representasi apa yang
dipercayai oleh individu,
komponen afeksi merupakan
perasaan yang –menyangkut aspek emosional dan komponen konasi merupakan aspek kecenderungan
berperilaku tertentu sesuai sikap yang dimiliki oleh seseorang (Azwar, 2002:
23).
b.
Identifikasi teori yang
dipergunakan
c.
Gambarkan hubungan sebab akibat
antar variable.
Skala Nominal merupakan skala yang paling lemah dari semua skala
pengukuran yang ada. Skala ini membedakan suatu peristiwa dengan peristiwa yang
lain berdasarkan nama. Pada skala ordinal semua data dianggap bersifat
kualitatif dan setara, sebagai contoh data siswa dibedakan menjadi laki-laki
diwakili dengan angka 1 dan perempuan diwakili dengan angka 2, konsekuensi dari
nominal tidak mungkin seseorang memiliki dua kategori sekaligus.
Skala Ordinal pengukuran didasarkan
pada jumlah relatif beberapa karakteristik khusus yang dimiliki oleh setiap
peristiwa. Oleh karena itu, pengukuran skala ordinal memungkinkan penyusunan peringkat
dari masingmasing peristiwa yang terjadi. Pada skala ordinal terdapat
klasifikasi data berdasarkan tingkatan, sebagai contoh tingkat pendidikan,
kategori SD diwakili angka 1, SMP diwakili angka 2, SMA diwakili angka 3, dan
kategori Serjana diwakili angka 4, dari data tingkat pendidikan yang diwakili
angka 1, 2, 3 dan 4 memilii level yang berbeda.
Skala Interval Pada skala interval,
pembedaan peristiwa dapat diurutkan. Antara peringkat satu dengan yang lain
memiliki arti. Dengan kata lain, selain bisa dibuat dalam peringkat data dapat
pula dikuantitatifkan. Sebagai contoh interval nilai pelajaran matematika di
SMP Maju adalah 0 sampai 100, bila siswa A dan B masing-masing mendapat nilai
45 dan 90 bukan berarti tingkat kecerdasan B dua kali dari tingkat kecerdasan A
meskipun nilai B dua kali dari nilai A.
Skala Rasio merupakan pengukuran
yang paling tinggi. Skala rasio adalah hasil pengukuran untuk nilai yang
sesungguhnya, bukan kategori seperti pada skala nominal, ordinal maupun
interval. Sebagai contoh saldo A di bank BRI bernilai Rp.50.000,00. Angka
50.000 benar-benar real bahwa A mempunyai uang sebesar Rp.50.000,00.
Validitas
Menurut Azwar (1986) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Arikunto (1999) Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur.
Menurut Azwar (1986) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Arikunto (1999) Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur.
Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan
kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria. Menurut Nursalam (2003) Validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu
instrumen. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian di atas, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa Validitas adalah suatu standar ukuran yang
menunjukkan ketepatan dan kesahihan suatu instrumen.
Jenis-jenis Validitas
Menurut Sudijono (2009) terdapat berbagai jenis validitas, antara lain
Menurut Sudijono (2009) terdapat berbagai jenis validitas, antara lain
Pengujian Validitas Tes Secara
Rasional
Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Validitas Isi (Content Validity) dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelususran atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Validitas isi adalah yang ditilik dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu: sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isisnya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahkan pelajaran yang seharusnya diteskan (diujikan). Validitas konstruksi (Construct Validity) dapat diartikan sebagai validitas yang ditilik dari segi susunan, kerangka atau rekaannya. Adapun secara terminologis, suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas konstruksi, apabila tes hasil belajar tersebut telalh dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psikologis.
Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Validitas Isi (Content Validity) dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelususran atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Validitas isi adalah yang ditilik dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu: sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isisnya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahkan pelajaran yang seharusnya diteskan (diujikan). Validitas konstruksi (Construct Validity) dapat diartikan sebagai validitas yang ditilik dari segi susunan, kerangka atau rekaannya. Adapun secara terminologis, suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas konstruksi, apabila tes hasil belajar tersebut telalh dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psikologis.
Pengujian Validitas Tes Secara
Empirik
Validitas empirik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Dengan kata lain, validitas empirik adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Validitas ramalan (Predictive validity) adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Validitas bandingan (Concurrent Validity) tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah, antara tes pertama dengan tes berikutnya.
Validitas empirik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Dengan kata lain, validitas empirik adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Validitas ramalan (Predictive validity) adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Validitas bandingan (Concurrent Validity) tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah, antara tes pertama dengan tes berikutnya.
Reliabilitas
Menurut Sugiono (2005) Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Menurut Sukadji (2000) Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian reliabilitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Reliabilitas adalah suatu keajegan suatu tes untuk mengukur atau mengamati sesuatu yang menjadi objek ukur.
Menurut Sugiono (2005) Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Menurut Sukadji (2000) Reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama – sama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian reliabilitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Reliabilitas adalah suatu keajegan suatu tes untuk mengukur atau mengamati sesuatu yang menjadi objek ukur.
Skala
Pengukuran kesepakatan
yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang
ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam
pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
Skala Likert skala
yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena pendidikan. Dalam
skala Likert terdapat dua bentuk pernyataan yaitu pernyataan positif yang
berfungsi untuk mengukur sikap positif, dan pernyataan negative yang berfungsi
untuk mengukur sikap negative objek sikap.
Skala Guttman skala yang menginginkan tipe jawaban tegas,
seperti jawaban benar - salah, ya - tidak, pernah - tidak pernah, positif -
negative, tinggi - rendah, baik - buruk, dan seterusnya. Pada skala Guttman,
hanya ada dua interval, yaitu setuju dan tidak setuju. Skala Guttman dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda
maupun daftar checklist. Untuk jawaban positif seperti benar, ya, tinggi, baik,
dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negative seperti salah,
tidak, rendah, buruk, dan semacamnya diberi skor 0.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar